Oleh : Nies Arinal Haque (mahasiswa ilmu komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi, Nim : 20010530117)
Saat ini semakin banyak kita temui adanya fenomena-fenomena yang memarjinalkan posisi wanita di masyarakat. Kultur patriarkhi yang telah melekat sekian lama di dalam kehidupan kita sehari-hari, makin memperkuat alasan bahwa laki-laki memiliki kemampuan yang lebih daripada wanita. Keadaan yang seperti ini menimbulkan banyaknya diskusi-diskusi maupun kajian-kajian akan posisi wanita di dalam masyarakat. Tetapi, masih sedikit sekali kaum wanita yang mampu berpikir kritis untuk membela hak-hak yang harusnya dia miliki.
Konstruksi wanita di dalam masyarakat sangat beraneka ragam, tapi semuanya memiliki kesamaan yaitu membuat kedudukan wanita semakin tersubordinasi. Kita tidak dapat menyalahkan hal ini, karena terkadang kaum wanita jualah yang membuat posisi mereka semakin terpojok. Mereka seolah merasa bangga menjadi tontonan public yang hanya mampu melihat sisi keindahan dari seorang wanita.
Bila diamati dengan teliti, maka perempuan merupakan penghuni yang paling dominan dari media massa, terutama pada dua hal : Pertama, iklan suatu produk. Pada posisi ini, sangat jelas bagaimana perempuan telah menjadi ujung
tombak untuk menarik minat konsumen dan sekaligus menjadi sasaran barang komoditi. Kedua, berita yang sensasional. Dalam kasus perkosaan ataupun korban sebuah kekerasan, posisi perempuan tetap menjadi pihak yang dilemahkan. Kuatnya kepentingan modal menyebabkan media tetap mempertahankan ketimpangan gender daripada turut terlibat dalam usaha mengubah kondisi menjadi kesetaraan.
Adanya konstruksi perempuan yang diinginkan oleh public ini, juga tak lepas dari peran media yang telah menggambarkan lebih dulu tentang sosok perempuan yang patut untuk dikagumi. Penggambaran wanita yang dibentuk oleh media ini secara tidak langsung juga menjadi referensi tersendiri bagi public dan di kehidupan kita sehari-hari.
Konstruksi yang digambarkan oleh kebanyakan iklan saat ini, bersifat mengeksploitasi perempuan. Fenomena ini sebenarnya sudah sejak dulu, namun tampaknya semakin lama semakin tampak mengeksplotir perempuan. Kita dapat melihat hal ini dalam media baik cetak (koran dan tabloid), televisi (iklan dan sinetron) dan internet, semakin lama daya tarik fisik wanita semakin ditonjilkan.
Kita bisa melihat iklan yang ditampilkan oleh televisi. Dari iklan rokok, ponsel, mobil, minuman penambah energy, obat penambah tenaga dan semangat lembur bagi laki-laki, kondom, dan lain-lain. Banyak produk yang berhubungan langsung dengan perempuan mempergunakan dunia perempuan, semata untuk menarik perempuan.iklan tidak jarang menampilkan perempuan sebagai objek seks dan instrumen seks.
Sebenarnya perempuan dalam iklan memiliki citra,yaitu citra peraduan, citra pigura, pilar rumah tangga, citra pergaulan dan citra pinggan.citra peraduan ini bersangkut paut dengan citra perempuan sebagai obyek seksual. Kita bisa melihat citra ini dalam iklan obat-obat kuat, kondom dan sebagainya. Citra pigura, perempuan sebagai makhluk yang cantik dan harus selalu menjaga kecantikannya dengan latihan fisik, diet, aksesories, pakaian, dimana segala sesuatu yang mewah diasosiasikan sebagai perempuan.
Citra yang paling banyak dieksploitasi adalah perempuan sebagai pilar rumah tangga. Diaman perempuan harus menjalankan tugasnya mulai dari yang tradisional (sumur, kasur, dapur) sampai dengan agak modern, tetapi tetap dalam lingkup domestik. Sebagai pilar, perempuan juga diharapkan mampu me-manage rumah tangga. Dan dalam hal ini iklan yang akan ditampilkan adalah iklan berbagai macam alat rumah tangga hasil teknologi. Dan perempuan dalam citra pergaulan ada hubungannya dengan citra peraduan. Anggapan bahwa perempuan merupakan alat pemungkas kebutuhan laki-laki, kecantikan perempuan. Dalam iklan suplemen makanan dan ramuan tradisional pembangkit gairah seksual, kepuasan tidak hanya pada laki-laki tetapi juga berdampak pada diri perempuan yang merasa dihargai oleh laki-laki.
Citra pinggang lebih banyak digunakan untuk menawarkan makanan, minuman, bumbu masak, alat-alat rumah tangga dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dapur.
Perempuan yang ditampilakan dalam iklan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya patriarki yang hanya menjadikan perempuan sebagai pendamping pria dari mulai remaja sampai nenek-nenek. Dalam iklan, perempuan diindentikan dengan kegiatan masak-memasak, kecantikan, perawatan tubuh, bentuk-bentuk tubuh yang proporsional, kulit putih, rambut lurus dan panjang. Media terutama iklan memang sangat berpengaruh kuat dalam menentukan perempuan yang seolah-olah didambakan dalam masyarakat. Banyak iklan yang secara tidak langsung mendeskripsikan perempuan yang dianggap tidak memenuhi kriteria badan ideal perempuan dewasa. Perempuan dengan tubuh yang tidak langsing, atau tidak berkulit
putih dan berambut lurus tidak mendapatkan tempat dalam media iklan dan bukan type perempuan ideal yang didambakan laki-laki.
Citra stereotip perempuan seperti yang disebutkan dalam iklan-iklan melekat dalam masyarakat, tidak mengherankan kalau biro iklan selalu mengikuti citra masyarakat dan menggantungkan dirinya pada komodifikasi tubuh perempuan. Karena dalam iklan, segi komersial menjadi pertimbangan utama. Beberapa alasan penyebab dipilihnya perempuan pada sebagian iklan adalah :
• Karena sebagian iklan ditujukan untuk perempuan
• Yang menentukan pembelian barang-barang adalah perempuan
Remaja putri yang sering menjadi sasaran baik sebagai model maupun target pasar ikaln produk kecantikan yang ditawarkan. Dan tentu saja banyak model-model iklan yang ditampilkan adalah remaja, hal ini dilakukan untuk menarik perhatian remaja lain, agar berlomba-lomba membeli produk yang ditawarkan untuk tampil cantik menarik ala model, untuk menunjukan kepada remaja pria supaya tertarik.
Douglas Kellner dalam bukunya Media Culture “Cultural Studies, Identity and Polotics between the Modern (1996), menunjuk pada suatu keadaan dimana tampilan audio dan visual atau tontonan-tontonan, telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari, mendominasi proyek-proyek hiburan, membentuk opini politik dan perilaku sosial, bahkan memberikan suplai materi untk membentuk identitas seseorang. Media cetak, radio, televisi, film, internet dan bentuk-bentuk teknologi media lainnya telah menyediakan definisi-definisi untuk menjadi laki-laki atau perempuan membedakan status-status seseorang berdasarkan kelas, ras, maupun seks.