sosiologi komunikasi kelas C

Wednesday, May 11, 2005

HIPERREALITAS TUBUH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN IDEAL

Oleh : Dewi Budiyanti (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)

Pendahuluan
Salah satu ciri khas masyarakat modern adalah adanya pemanfaat terhadap teknologi. Hal inilah yang membentuk mereka secara personality and performance menjadi mesin yang digerakkan oleh teknologi, serta senantiasa terus memasuki celah modernitas. Dampak dari perkembangan fenomena diatas adalah kemunculan hiperrealitas dalam masyarakat secara luas di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Iklan diberbagai media telah menjadi bagian dari hiperrealitas itu sendiri yang patut dijadikan sebuah retorika. Pada saat audience disuguhkan iklan bermacam-macam produk di TV sebagai media audiovisual khususnya iklan-iklan yang spesifikasinya adalah body performance, disitulah adanya pergaulan akan tubuh ideal.

Pembahasan
Hiperrealitas berkata bahwa makna memproduksi realitas, ketika makna itu telah berubah dari arti sesungguhnya. Pada awalnya, tanda bahasa sangat berperan dalam media dan teks media bagi kita. Namun dewasa ini bukan lagi realitas yang menghasilkan tanda bahasa, melainkan tanda bahasa inilah yang memproduksi realitas, yang dikenal dengan semiotika poststrukturalis. Dengan kemajuan teknologi, orang berlomba-lomba untuk membentuk tubuhnya seideal pasar semakin lebar. Berdirinya fitness centre, pusat-pusat senam aerobic, hingga produk-produk kosmetik kulit yang menjanjikan serta obat penurun berat badan, penggemuk badan yang kurus, dan lain-lain. semua itu sudah jelas sangat mengkonsumsi obat, memakai kosmetik agar sehat. Kini, telah bergeser nilai dan maksud agar dapat membentuk tubuh mereka seideal mungkin. Dan akhirnya, marketers terutama dalam iklan berlomba-lomba memasang tubuh laki-laki maupun perempuan ideal didalamnya.
Tubuh-tubuh ideal yang selalu dijadikan alat komodity pasar dalam iklan adalah bentuk hiperrealitas. Apa yang akan terjadi jika dalam sebuah iklan menampilkan bintang yang biasa-biasa saja? Pasar yang ditargetkan sudah pasti merosot. Karena tubuh ideal saat ini telah menjadi sign value. Bagi perempuan bertubuh tinggi semampai, berkulit putih dan berambut indah adalah dambaan yang kemudian dijadikan penanda. Dalam iklan simpati hoki Nova Eliza sebagai personifikasi wanita impian yang diwujudkan dalam sosok kurir pizza. Dengan berbalut baju sexy memperlihatkan perutnya yang rata dan kencang, dadanya yang indah serta celana pendek dan ketat lebih mempertegas bentuk kaki dan pahanya yang indah, Nova juga bermake up dengan sensual. Nova yang gemar berbusana dengan memperlihatkan lekuk tubuhnya ini, kata Erik Meijer selaku general manager marketing Telkomsel, Nova terpilih membintangi iklan ini karena berdasar riset namanya disebut-sebut sebagai impian laki-laki saat ini. Selain itu, iklan hemaviton action yang sebelumnya dibintangi Nafa Urbach, Denada, Krisdayanti kini menampilkan Agnez Monica. Bintang-bintang tersebut sudah tak perlu dipertanyakan bagaimana keidealan tubuhnya. Dengan make up glamour, baju ketat dan sexy ditambah dance yang memikat dengan keenergikan tubuh dan ideal perempuan seperti inilah sebagai makna yang kini memproduksi realitas. Dapat pula kita lihat dalam iklan produk pelangsing tubuh seperti slmming tea, wrp, merit, extrim, dan lain-lain tidak pernah dibintangi oleh perempuan dengan tubuh yang berlemak, dan berkulit kusam.
Fenomena diatas tidak hanya dispesifiaksikan bagi perempuan. Sudah banyak pula insan-insan TV yang menonjolkan tubuh laki-laki ideal. Pria metrosexual yang kini melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, dampaknya juga berpengaruh pada potensi pasar, the new york times menyebutkanya sebagai marketer’s dream. Berdasarkan Indonesian metrosexual behaviour survey oleh mark plus dan co para pria ini gemar belanja, update dengan fashion, rajin ke salon dadanya berbidang, kaki dan tangannya kekar maka fitness centre menjadi tujuan mereka. Di luar itu mereka juga sebagai pengguna produk-produk kosmetik “for men”. Tak heran kalau saat ini banyak ditayangkan produk bedak, facial, body spray/ makanan rendah kalori, produk makanan diet, dan lain-lain. Semua ini adalah bagian dari trend iklan ekstra joss, Krating daeng, bahkan iklan-iklan yang bukan produk body performance pun selalu dibintangi oleh pria-pria yang bertubuh ideal, tinggi, kekar. Akhrinya hal ini menimbulkan machoisme dalam masyarakat kita. Saat inipun iklan l-man memproduksi susu khusus untuk membentuk pria ideal. Sudah jelas bahwa bentuk tubuh ideal bagi pria pun kini menjadi penting yang kemudian berdampak pada iklan di TV sebagai penunjang pasar maka hampir tidak pernah audience ditampilkan iklan produk dengan bintang pria yang tubuhnya tidak ideal.
Tubuh laki-laki dan perempuan ideal dalam iklan telah menjadi sebuah hiperrealitas. Tubuh yang ideal dalam masyarakat seolah telah menjadi sebuah keharusan. Seperti yang telah dikatakan baudrilland, bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari objek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada suatu yang nyata. Media melalui berbagai teks yang diproduksinya, tidak secara mendadak menciptakan kondisi ini, namun hal ini merupakan evolusi penggunaan tanda bahasa telah lama berlangsung sepanjang sejarah modern. Adanya intertext dalam iklan pulalah yang meletuskan adanya yang penojolan tubuh ideal dalam iklan. Tidak mungkin rasanya iklan produk kosmetik pemutih kulit seperti citra, vaseline, shinzui, dan lain-lain menampilkan bintang yang berkulit kusam. Ataupun obat suplemen, minuman bertenaga bagi pria menampilkan pria yang kurus dan loyo sementara produk yang dibintangi menjanjikan kekebalan, kekuatan dan stamina tubuh yang kuat. Tubuh-tubuh ideal seperti ini pada akhirnya pun menimbulkan fetisisme atau pemujaan terhadap sesuatu yakni pemujaan terhadap tubuh ideal karena tubuh-tubuh yang tidak seperti dengan bintang-bintang iklan dianggap tidak ideal.
Mengingat kembali salah satu karakteristik komunikasi massa adalah adanya kontak secara serentak dengan khalayak luas. Tayangan iklan di televisi yang kini semakin masak dan berlomba-lomba memasang bintang-bintang yang bertubuh ideal sangat berpengaruh pula dengan masyarakat yang mengkonsumsi tayangan tersebut. Sedikit sekali anggota masyarakat modern yang tidak diterpa oleh media. Penelitian sejauh mana terjadi tumpang tindih diantara khalayak media dan bagaimana pola-pola terpaan media tersebut berhubungan dengan faktor-faktor sosial dan psikologis sosial lainnya merupakan minat terus menerus dari para ahli sosiologi.


Penutup
Saat ini kita telah memasuki era simulasi (silmulacrum), dimana lambang-lambang tidak lagi mewakili, namun sebaliknya justru memproduksi realitas bagi kita. Hiperrealitas tubuh ideal dalam iklan ini juga tergolong sebagai comodity culture yang menjadi salah satu aspek dari simulasi hidup kita. Objek-objek dewasa ini telah dipisahkan dari keadaan alamiahnya. Hidup manusia yang kini telah didominasi oleh simbolitas, membuat kita mengartikan suatu hal diluar arti sesungguhnya. Termasuk dalam penyuguhan tubuh pria dan perempuan ideal dalam dunia iklan yang semakin berkembang ini. Feminisme, machoisme versus teknologi adalah fenomena yang berkembang, tidak hanya perempuan, namun laki-laki pun kini juga telah menjadi bagian dari komoditas pasar khususnya dalam dunia periklanan.

Referensi:
- www.google.com. 2004. Tubuh perempuan ideal dalam iklan, Nova Eliza impian lelaki dalam iklan.

- www.google.com. 2003, Tubuh laki-laki ideal dalam iklan, Pasar Metrosexual.

- Wright, Charles Robert, 1959, Sosiologi komunikasi massa. Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.

- Junaedi, Fajar 2005, Hiperrealitas, Ketika makna memproduksi realitas.

1 Comments:

Post a Comment

<< Home