HOLLYWOOD ; Nitis realitas Hegemoni Kapitalis
Oleh Demsy Presanov (mahasiswa ilmu komunikasi UMY, peserta mata kuliah sosiologi komunikasi)
“Knowledge Is Power”
( Francis Bakon)
Film merupakan salah satu media yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi “will to power” atas kepentingan komunikator terhadap komunikan. “bullet teori” laswell yang melihat komunikan sebagai sasaran tembak dari pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator merupakan gambaran yang tepat untuk merefresentasikan betapa kuatnya pengaruh film dalam mengkonstruk pemikiran penontonnya.
Sejak ditemukannnya alat yang mampu memproduksi film dalam jumlah besar pada abad ke 18. Film telah memasuki babak baru dalam industrialisasi media. Film tidak lagi mengusung cerita-cerita yang ada dalam teater, namun telah jauh kedepan melebihi pemikiran masyarakat umum pada masa itu. Cerita dengan lakon pahlawan”hero” dengan akhir cerita happy ending, menjadi suguhan yang menarik dan populer. Alur cerita tersebut berlanjut hingga perkembangan masyarakat saat ini, masyarakat kapital lanjut yang mendominasi pemikiran dunia.
Salah satu ciri masyarakat kapital lanjut adalah ketika makna membentuk realitas. Produksi berjalan ketika produsen telah mengetahui kebutuhan apa yang diinginkan oleh konsumennya. Hyperrealitas dalam film-film hollywood merupakan refresentasi dari citra yang ingin dibangun oleh kekuatan modal atas pasar. “mainstream” merupakan eksekusi atas intervensi film-film hollywood dalam menghegemoni pasar film dunia.
Hegemoni kapital dalam film-film hollywood tidak hanya berujung pada kepentingan ekonomi semata namun ada kepentingan budaya dan politik sebagai dasar dari pondasi kekuatan ekonomi pasar. Hal ini dapat kita lihat dalam film Armagedon, Good Morning Vietnam, Patriot, Soul Plane, Terminal dll. Sehingga untuk melihat intervensi kapital dalam film sebagai media hegemoni, tidak dapat dilihat dari perspektif hegemoni negara semata, namun hegemoni dari kekuatan kelompok atau masyarakat film pun perlu ditinjau secara kritis.
Kritik Antonio Gramsci terhadap Mark dan Engels tentang masyarakat sipil sebagai “momen struktur” struktur merupakan titik analisa Gramsci. Menurut Gramsci, masyarakat sipil tidak berada pada “momen struktur" struktur, melainkan pada suprastruktur; masyarakat sipil, yang didefinisikan sebagai kumpulan organisme yang disebut “privat”, dan masyarakat politik atau negara. Kedua-duanya memiliki kecenderungan untuk melakukan fungsui hegemoni, baik oleh kelompok dominan dalam kelompok atau masyarakat atau secara “dominasi langsung” yang diekspresikan melalui negara dan pemerintahan “yuridis”.
Wacana globalisasi yang diusung oleh kekuatan kapital lanjut adalah ketika hilangnya batas-batas negara ”state area” atas kepentingan ekonomi dan politik. Hal ini dapat kita lihat pasca runtuhnya WTC yang berlanjut pada intervensi Amerika Serikat dan sekutu ke Afganistan dan Iraq, dalam rangka memburu Osama bin Laden dan Saddam Husein. Artinya hegemoni tidak lagi dilihat atas wilayah negara semata, melainkan kelompok kepentingan seperti multinasional corp. pun memiliki kepentingan yang sama.
Kepentingan kelompok multinasional corp. dimungkinkan terjadi dikarenakan sistem pasar bebas mengharuskan negara sebagai penjaga kepentingan pasar. Hal ini dapat kita lihat sepintas dari beberapa ciri utama kapitalisme; pertama, Perusahaan-perusahaan merupakan nahkoda utama dalam menjalankan ekonomi. Kedua, pengaturan kegiatan ekonomi dilakukan oleh apa yang dinamakan”pasar”. Ketiga, adanya alokasi dana apa yang dikenal dengan upah atau kontrak kerja antara majikan dan pekerja. Keempat, negara tidak melakukan intervensi atas pasar melainkan membiarkan pasar bekerja secara bebas.
Diatas telah disinggung bahwa film memiliki karakter unik dalam “maensett” atau memiliki kemampuan “maenstream” dalam produksi pesan yang ditampilkan. Film memiliki narasi yang berstruktur, jika kita analisa dengan pendekatan semiotik maka akan kita temukan adanya “grand narasi” dalam film-film hollywood. Produksi pesan dalam film hollywood menjelmakan”nitis” makna dalam membentuk realitas yang utopis.
Untuk melihat hubungan pesan dan makna dapat kita lihat dalam diagram pesan dan makna menurut John Fiske. Menurut Fiske pesan merupakan isi dari komunikasi yang coba disampaikan oleh seorang komunikator atau produsen produksi pesan. pesan bukanlah sesuatu yang dikirim dari A ke B, melainkan suatu elemen dalam sebuah hubungan yang terstruktur yang elemen lainnya termasuk eksternal dan produsen / pembaca. Sehingga dapat kita pahami bagaimana produksi pesan/makna dalam film membentuk realitas, setelah mengkooptasi pikiran penontonnya.
1. Disampaikan dalam presentasi kelas soskom Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si
2. Mahasiswa komunikasi UMY , BAR CODE 20020530124
DAFTAR PUSTAKA
Soros, George. 2001. Krisis Kapitalisme Global. Qalam. Yogyakarta
Fiske, Jhon. 2004. Cultural and Comunication Studies. Jala Sutra. Yogyakarta
Sunardi, ST. 2002. Semiotika Negativa. Buku Baik. Yogyakarta
Listiyono, sunarto, Dkk. Epistemologi Kiri. Ar-Ruzz. Yogyakarta
“Knowledge Is Power”
( Francis Bakon)
Film merupakan salah satu media yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi “will to power” atas kepentingan komunikator terhadap komunikan. “bullet teori” laswell yang melihat komunikan sebagai sasaran tembak dari pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator merupakan gambaran yang tepat untuk merefresentasikan betapa kuatnya pengaruh film dalam mengkonstruk pemikiran penontonnya.
Sejak ditemukannnya alat yang mampu memproduksi film dalam jumlah besar pada abad ke 18. Film telah memasuki babak baru dalam industrialisasi media. Film tidak lagi mengusung cerita-cerita yang ada dalam teater, namun telah jauh kedepan melebihi pemikiran masyarakat umum pada masa itu. Cerita dengan lakon pahlawan”hero” dengan akhir cerita happy ending, menjadi suguhan yang menarik dan populer. Alur cerita tersebut berlanjut hingga perkembangan masyarakat saat ini, masyarakat kapital lanjut yang mendominasi pemikiran dunia.
Salah satu ciri masyarakat kapital lanjut adalah ketika makna membentuk realitas. Produksi berjalan ketika produsen telah mengetahui kebutuhan apa yang diinginkan oleh konsumennya. Hyperrealitas dalam film-film hollywood merupakan refresentasi dari citra yang ingin dibangun oleh kekuatan modal atas pasar. “mainstream” merupakan eksekusi atas intervensi film-film hollywood dalam menghegemoni pasar film dunia.
Hegemoni kapital dalam film-film hollywood tidak hanya berujung pada kepentingan ekonomi semata namun ada kepentingan budaya dan politik sebagai dasar dari pondasi kekuatan ekonomi pasar. Hal ini dapat kita lihat dalam film Armagedon, Good Morning Vietnam, Patriot, Soul Plane, Terminal dll. Sehingga untuk melihat intervensi kapital dalam film sebagai media hegemoni, tidak dapat dilihat dari perspektif hegemoni negara semata, namun hegemoni dari kekuatan kelompok atau masyarakat film pun perlu ditinjau secara kritis.
Kritik Antonio Gramsci terhadap Mark dan Engels tentang masyarakat sipil sebagai “momen struktur” struktur merupakan titik analisa Gramsci. Menurut Gramsci, masyarakat sipil tidak berada pada “momen struktur" struktur, melainkan pada suprastruktur; masyarakat sipil, yang didefinisikan sebagai kumpulan organisme yang disebut “privat”, dan masyarakat politik atau negara. Kedua-duanya memiliki kecenderungan untuk melakukan fungsui hegemoni, baik oleh kelompok dominan dalam kelompok atau masyarakat atau secara “dominasi langsung” yang diekspresikan melalui negara dan pemerintahan “yuridis”.
Wacana globalisasi yang diusung oleh kekuatan kapital lanjut adalah ketika hilangnya batas-batas negara ”state area” atas kepentingan ekonomi dan politik. Hal ini dapat kita lihat pasca runtuhnya WTC yang berlanjut pada intervensi Amerika Serikat dan sekutu ke Afganistan dan Iraq, dalam rangka memburu Osama bin Laden dan Saddam Husein. Artinya hegemoni tidak lagi dilihat atas wilayah negara semata, melainkan kelompok kepentingan seperti multinasional corp. pun memiliki kepentingan yang sama.
Kepentingan kelompok multinasional corp. dimungkinkan terjadi dikarenakan sistem pasar bebas mengharuskan negara sebagai penjaga kepentingan pasar. Hal ini dapat kita lihat sepintas dari beberapa ciri utama kapitalisme; pertama, Perusahaan-perusahaan merupakan nahkoda utama dalam menjalankan ekonomi. Kedua, pengaturan kegiatan ekonomi dilakukan oleh apa yang dinamakan”pasar”. Ketiga, adanya alokasi dana apa yang dikenal dengan upah atau kontrak kerja antara majikan dan pekerja. Keempat, negara tidak melakukan intervensi atas pasar melainkan membiarkan pasar bekerja secara bebas.
Diatas telah disinggung bahwa film memiliki karakter unik dalam “maensett” atau memiliki kemampuan “maenstream” dalam produksi pesan yang ditampilkan. Film memiliki narasi yang berstruktur, jika kita analisa dengan pendekatan semiotik maka akan kita temukan adanya “grand narasi” dalam film-film hollywood. Produksi pesan dalam film hollywood menjelmakan”nitis” makna dalam membentuk realitas yang utopis.
Untuk melihat hubungan pesan dan makna dapat kita lihat dalam diagram pesan dan makna menurut John Fiske. Menurut Fiske pesan merupakan isi dari komunikasi yang coba disampaikan oleh seorang komunikator atau produsen produksi pesan. pesan bukanlah sesuatu yang dikirim dari A ke B, melainkan suatu elemen dalam sebuah hubungan yang terstruktur yang elemen lainnya termasuk eksternal dan produsen / pembaca. Sehingga dapat kita pahami bagaimana produksi pesan/makna dalam film membentuk realitas, setelah mengkooptasi pikiran penontonnya.
1. Disampaikan dalam presentasi kelas soskom Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si
2. Mahasiswa komunikasi UMY , BAR CODE 20020530124
DAFTAR PUSTAKA
Soros, George. 2001. Krisis Kapitalisme Global. Qalam. Yogyakarta
Fiske, Jhon. 2004. Cultural and Comunication Studies. Jala Sutra. Yogyakarta
Sunardi, ST. 2002. Semiotika Negativa. Buku Baik. Yogyakarta
Listiyono, sunarto, Dkk. Epistemologi Kiri. Ar-Ruzz. Yogyakarta


1 Comments:
At 2:26 AM,
Fajar Junaedi said…
cerdas melibas..menggabungkan Nietszche, Gramsci, Bacon and many more...
Post a Comment
<< Home