Hegemoni Amerika terhadap Muslim di Bosnia dalam film
Oleh Nurdiyah Ratnani (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY)
I. PENDAHULUAN
Hollywood merupakan satu-satunya tempat atau pusat industri perfilman di Amerika Serikat yang sangat besar, siapa yang tidak kenal atau tidak pernah nonton film Hollywood? Sadar atau tidak, di kehidupan sehari-hari tepatnya di TV, Bioskop, Majalah, Koran, Internet, tersentuh oleh film-film dan kisah bintang Hollywood. Film Hollywood (artinya disini dalai film-film yang diproduksi oleh studio besar sekelas Warner, Disney, Universal, Fox dan anak-anak perusahaannya) telah menguasai pasar hampir diseluruh dunia, meski setahun “hanya” memproduksi 450 film (2002). Jumlah pendapatan dari film-film ekspor asal Amerika tersebut pada tahun 2002 lalu mencapai hampir 10 milyar dollar (hanya yang beredar di bioskop saja, belum termasuk video, DVD), dengan pasar terbesar Eropa dan Asia Pasifik (termasuk Indonesia tentunya)dan menyumbang lebih dari 530 Milyar dollar untuk GDP Amerika Serikat, ini merupakan angka yang amat sangat fantastis untuk industri hiburan.
Tidak bisa dipungkiri, marketing film Hollywood belum ada yang dapat menandingi, karena apa yang dijual oleh mereka memang benar-benar “menjual”, selain itu distribusi oleh distributor besar adalah senjata terampuh. Mereka tergabung dalam MPA (Motion Picture Association, yang terdiri dari Disney, MGM, Columbia, Paramount, Fox, Universal dan Warner) dengan lobi politik dan ekonomi yang kuat di Pemerintah Amerika dan juga dunia. Kantor dan perwakilan yang mendunia (termasuk di Jakarta), yang siap memantau perkembangan pasar film di seluruh penjuru dunia. Lobi mereka yang sampai tingkat sangat tinggi, tidak heran selalu terus memperkuat posisi peredaran film Hollywood di manapun (dengan pengecualian di India salah satunya, yang pasarnya selalu didominasi oleh film-film lokal).
Invasi pasar film Hollywood bukanlah sekedar pasar atau share peredaran film di dunia, tetapi dalam arti yang lebih luas yang secara sadar atau tidak telah terjadi “Hollywoodisasi”, melalui budaya, Amerika memaksakan kehendaknya, kalau perlu ancaman embargo bila tidak mau menjualkan film-film Hollywood ke negeri ketiga, khususnya Islam. Secara cepat pula industri film yang didominasi Yahudi ini kemudian menjadi trendsetter gaya hidup ummat manusia di seluruh dunia. Secara cepat pula, gaya hidup barat dan Hollywood menjadi peradapan baru dengan dalih globalisasi, secara tidak langsung Amerika telah menghegemoni masyarakat melalui representasi dalam film-filmnya, alur cerita yang dibuat pada film-film Hollywood lebih cenderung menghegemoni sehingga menciptakan anggapan pada pikiran penonton bahwa cerita yang disampaikan dalam film tersebut merupakan kenyataan yang ada.
II. PEMBAHASAN
Representasi adalah hasil dari suatu proses seleksi yang mengakibatkan bahwa ada sejumlah aspek dari realitas yang ditonjolkan serta ada sejumlah aspek lain yang dimarjinalkan, sedangkan hegemoni dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana kelas yang berkuasa mampu mengadakan kepemimpinan moral dan intelektual (moral and intellectual leadership). Film-film Hollywood yang nyaris selalu menampilkan pahlawan (protagonis) dari kalangan WASP (white, anglo saxon, dan protestan), dan secara biner (binary position) merepresentasikan kulit hitam, Asia, Arab, dan Latin sebagai “yang lain” (the other) yang jahat dan tidak berperadapan merupakan salah satu bentuk hegemoni yang dilakukan Hollywood melalui representasi film-filmnya.
Salah satu film yang diproduksi oleh Hollywood dalai Film “BEHIND ENEMY LINES”, film ini menceritakan tentang perjuangan seorang perwira Angkatan Udara Amerika Serikat yang tersesat di daerah perang antara Bosnia dan Serbia, dimana dia mencoba untuk mempertahankan dan menyelamatkan diri dari kejaran para tentara Serbia yang berusaha membunuhnya untuk mendapatkan foto-foto dan rekaman hasil pengintaiannya tentang kekejaman dan pembantaian yang dilakukan oleh tentara Serbia terhadap rakyat Bosnia yang ditampilkan sebagai muslim, sedangkan peran Amerika disini adalah sebagai mediator perang antar Bosnia dan Serbia tetapi tidak bersikap netral dan cenderung memihak pada Serbia. Film tersebut memiliki pesan yang sangat menghegemoni terhadap muslim yang direpresentasikan dengan umat muslim di Bosnia. Pada film tersebut juga ditampilkan tentang penganiayaan, pembantaian dan penindasan terhadap umat muslim di Bosnia yang secara tidak langsung mengartikan pesan bahwa umat muslim merupakan musuh bagi Serbia dan Amerika yang memang layak mendapatkan perlakuan seperti itu dan Amerika ditampilakan secara nyata sebagai pahlawan yang akan menyelamatkan rakyat Bosnia dari kekejaman tentara Serbia tetapi sebenarnya dibalik kemurahan hatinya sebagai seorang pahlawan, Amerika juga tetap mempertahankan ideologinya yang menganggap muslim sebagai musuh terbesarnya, taktik yang digunakan Amerika dalah dengan menggunakan Serbia sebagai alat untuk menghancurkan umat muslim Bosnia sehingga Amerika tampak tidak terlibat dalam kehancuran umat muslim di Bosnia serta terlihat sebagai negara penghancur tetapi tetap terlihat sebagai negara yang demokratis dan cinta perdamaian.
Pada dasarnya media memberikan efek yang berpengaruh dalam jangka pendek maupun waktu yang lama dalam kehidupan sosial, dalam waktu yang pendek suatu efek media akan mendapat respon individu dan akan mendapat perlawanan dari masyarakat, sedangkan dalam waktu yang lama, efek itu akan diadopsi dan terdifusi dalam kehidupan sosial sehingga pesan-pesan yang disampaikan melalui media (film) secara tidak sadar telah membentuk kesadaran dan cara kita berpikir serta berpersepsi berdasarkan apa yang kita lihat dalam tayangan tersebut. Dalam konteks ini film tersebut telah melahirkan persepsi pada penontonnya bahwa umat muslim merupakan ancaman dan harus ditaklukkan serta Amerika menciptakan dirinya sebagai pahlawan yang berada di balik layar yang dapat menaklukkan ancaman tersebutr tanpa perlu ikut campur dan melibatkan diri di dalam perang.
III. KESIMPULAN
Industri perfilman Hollywood mempunyai banyak sekali peminat di seluruh dunia sehingga secara praktis, film telah berubah menjadi sarana penjajahan Amerika. AS telah menggunakan seni sebagai alat untuk menyebarkan imperialismenya di dunia. Hollywood telah berhasil dalam menciptakan karya seni berkualitas tinggi, namun yang menjadi masalah adalah isi dan kandungan yang disampaikannya dalam film-film produksinya yang mengandung pesan yang menghegemoni, salah satunya di dalam film “BEHIND ENEMY LINES” dimana Hegemoni terhadap muslim terlihat sangat jelas. Hal ini dikarenakan Amerika menganggap umat muslim adalah musuh yang menghambat negara tersebut dalam mengembangkan ideologinya dan menjadikannya sebagai satu-satunya negara super power.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Http.//www.Sosiologikomunikasi.blogspot.com. Mengenal Representasi, Memahami Realitas Media. Fajar Junaedi. 2005
Http.//www.Sosiologikomunikasi.blogspot.com. Lima Genre Utama Teori Media Kritis. Fajar Junaedi. 2005
Http.//www.yahoo.com. Mengapa film Amerika (Hollywood) menguasai dunia?. Aleks75012
I. PENDAHULUAN
Hollywood merupakan satu-satunya tempat atau pusat industri perfilman di Amerika Serikat yang sangat besar, siapa yang tidak kenal atau tidak pernah nonton film Hollywood? Sadar atau tidak, di kehidupan sehari-hari tepatnya di TV, Bioskop, Majalah, Koran, Internet, tersentuh oleh film-film dan kisah bintang Hollywood. Film Hollywood (artinya disini dalai film-film yang diproduksi oleh studio besar sekelas Warner, Disney, Universal, Fox dan anak-anak perusahaannya) telah menguasai pasar hampir diseluruh dunia, meski setahun “hanya” memproduksi 450 film (2002). Jumlah pendapatan dari film-film ekspor asal Amerika tersebut pada tahun 2002 lalu mencapai hampir 10 milyar dollar (hanya yang beredar di bioskop saja, belum termasuk video, DVD), dengan pasar terbesar Eropa dan Asia Pasifik (termasuk Indonesia tentunya)dan menyumbang lebih dari 530 Milyar dollar untuk GDP Amerika Serikat, ini merupakan angka yang amat sangat fantastis untuk industri hiburan.
Tidak bisa dipungkiri, marketing film Hollywood belum ada yang dapat menandingi, karena apa yang dijual oleh mereka memang benar-benar “menjual”, selain itu distribusi oleh distributor besar adalah senjata terampuh. Mereka tergabung dalam MPA (Motion Picture Association, yang terdiri dari Disney, MGM, Columbia, Paramount, Fox, Universal dan Warner) dengan lobi politik dan ekonomi yang kuat di Pemerintah Amerika dan juga dunia. Kantor dan perwakilan yang mendunia (termasuk di Jakarta), yang siap memantau perkembangan pasar film di seluruh penjuru dunia. Lobi mereka yang sampai tingkat sangat tinggi, tidak heran selalu terus memperkuat posisi peredaran film Hollywood di manapun (dengan pengecualian di India salah satunya, yang pasarnya selalu didominasi oleh film-film lokal).
Invasi pasar film Hollywood bukanlah sekedar pasar atau share peredaran film di dunia, tetapi dalam arti yang lebih luas yang secara sadar atau tidak telah terjadi “Hollywoodisasi”, melalui budaya, Amerika memaksakan kehendaknya, kalau perlu ancaman embargo bila tidak mau menjualkan film-film Hollywood ke negeri ketiga, khususnya Islam. Secara cepat pula industri film yang didominasi Yahudi ini kemudian menjadi trendsetter gaya hidup ummat manusia di seluruh dunia. Secara cepat pula, gaya hidup barat dan Hollywood menjadi peradapan baru dengan dalih globalisasi, secara tidak langsung Amerika telah menghegemoni masyarakat melalui representasi dalam film-filmnya, alur cerita yang dibuat pada film-film Hollywood lebih cenderung menghegemoni sehingga menciptakan anggapan pada pikiran penonton bahwa cerita yang disampaikan dalam film tersebut merupakan kenyataan yang ada.
II. PEMBAHASAN
Representasi adalah hasil dari suatu proses seleksi yang mengakibatkan bahwa ada sejumlah aspek dari realitas yang ditonjolkan serta ada sejumlah aspek lain yang dimarjinalkan, sedangkan hegemoni dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana kelas yang berkuasa mampu mengadakan kepemimpinan moral dan intelektual (moral and intellectual leadership). Film-film Hollywood yang nyaris selalu menampilkan pahlawan (protagonis) dari kalangan WASP (white, anglo saxon, dan protestan), dan secara biner (binary position) merepresentasikan kulit hitam, Asia, Arab, dan Latin sebagai “yang lain” (the other) yang jahat dan tidak berperadapan merupakan salah satu bentuk hegemoni yang dilakukan Hollywood melalui representasi film-filmnya.
Salah satu film yang diproduksi oleh Hollywood dalai Film “BEHIND ENEMY LINES”, film ini menceritakan tentang perjuangan seorang perwira Angkatan Udara Amerika Serikat yang tersesat di daerah perang antara Bosnia dan Serbia, dimana dia mencoba untuk mempertahankan dan menyelamatkan diri dari kejaran para tentara Serbia yang berusaha membunuhnya untuk mendapatkan foto-foto dan rekaman hasil pengintaiannya tentang kekejaman dan pembantaian yang dilakukan oleh tentara Serbia terhadap rakyat Bosnia yang ditampilkan sebagai muslim, sedangkan peran Amerika disini adalah sebagai mediator perang antar Bosnia dan Serbia tetapi tidak bersikap netral dan cenderung memihak pada Serbia. Film tersebut memiliki pesan yang sangat menghegemoni terhadap muslim yang direpresentasikan dengan umat muslim di Bosnia. Pada film tersebut juga ditampilkan tentang penganiayaan, pembantaian dan penindasan terhadap umat muslim di Bosnia yang secara tidak langsung mengartikan pesan bahwa umat muslim merupakan musuh bagi Serbia dan Amerika yang memang layak mendapatkan perlakuan seperti itu dan Amerika ditampilakan secara nyata sebagai pahlawan yang akan menyelamatkan rakyat Bosnia dari kekejaman tentara Serbia tetapi sebenarnya dibalik kemurahan hatinya sebagai seorang pahlawan, Amerika juga tetap mempertahankan ideologinya yang menganggap muslim sebagai musuh terbesarnya, taktik yang digunakan Amerika dalah dengan menggunakan Serbia sebagai alat untuk menghancurkan umat muslim Bosnia sehingga Amerika tampak tidak terlibat dalam kehancuran umat muslim di Bosnia serta terlihat sebagai negara penghancur tetapi tetap terlihat sebagai negara yang demokratis dan cinta perdamaian.
Pada dasarnya media memberikan efek yang berpengaruh dalam jangka pendek maupun waktu yang lama dalam kehidupan sosial, dalam waktu yang pendek suatu efek media akan mendapat respon individu dan akan mendapat perlawanan dari masyarakat, sedangkan dalam waktu yang lama, efek itu akan diadopsi dan terdifusi dalam kehidupan sosial sehingga pesan-pesan yang disampaikan melalui media (film) secara tidak sadar telah membentuk kesadaran dan cara kita berpikir serta berpersepsi berdasarkan apa yang kita lihat dalam tayangan tersebut. Dalam konteks ini film tersebut telah melahirkan persepsi pada penontonnya bahwa umat muslim merupakan ancaman dan harus ditaklukkan serta Amerika menciptakan dirinya sebagai pahlawan yang berada di balik layar yang dapat menaklukkan ancaman tersebutr tanpa perlu ikut campur dan melibatkan diri di dalam perang.
III. KESIMPULAN
Industri perfilman Hollywood mempunyai banyak sekali peminat di seluruh dunia sehingga secara praktis, film telah berubah menjadi sarana penjajahan Amerika. AS telah menggunakan seni sebagai alat untuk menyebarkan imperialismenya di dunia. Hollywood telah berhasil dalam menciptakan karya seni berkualitas tinggi, namun yang menjadi masalah adalah isi dan kandungan yang disampaikannya dalam film-film produksinya yang mengandung pesan yang menghegemoni, salah satunya di dalam film “BEHIND ENEMY LINES” dimana Hegemoni terhadap muslim terlihat sangat jelas. Hal ini dikarenakan Amerika menganggap umat muslim adalah musuh yang menghambat negara tersebut dalam mengembangkan ideologinya dan menjadikannya sebagai satu-satunya negara super power.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Http.//www.Sosiologikomunikasi.blogspot.com. Mengenal Representasi, Memahami Realitas Media. Fajar Junaedi. 2005
Http.//www.Sosiologikomunikasi.blogspot.com. Lima Genre Utama Teori Media Kritis. Fajar Junaedi. 2005
Http.//www.yahoo.com. Mengapa film Amerika (Hollywood) menguasai dunia?. Aleks75012

